Kegunaan Tajuk Subjek

  1. Adanya proses temu kembali informasi

Artinya seorang pengindeks harus dapat memperkirakan kebutuhan informasi para pengguna. Hal ini terdapat pada tahap analisis subjek dimana pengindeks harus selalu bertanya bagaimanakah dokumen yang diharapkan pengguna dapat ditemukan kembali.

  1. Karena adanya kebutuhan informasi bagi pengguna perpustakaan

Apabila dokumen yang relevan dengan suatu permintaan dapat diketahui eksistensinya di perpustakaan, maka hal ini ada kecocokan (Match) antara informasi yang ditemukan, dengan kata lain informasi yang terdapat dalam dokumen dalam batas-batas tertentu cocok dengan informasi yang dikehendaki. Kecocokan inilah yang merupakan inti dari penemuan kembali informasi.

  1. Banyaknya koleksi bahan pustaka di perpustakaan, sehingga pengguna

mudah menentukan informasi yang bagaimana sesuai dengan kebutuhan. Bagaimanapun besarnya dokumen, perpustakaan tidak akan ada artinya jika dokumen yang relevan tidak dapat diketahui tempatnya bila diperlukan, oleh karena itu perpustakaan perlu membangun katalog yang merupakan suatu sistem penemuan kembali informasi (Information Retrieval System).

  1. Menyusun atau menyimpan di rak mempermudah petugas pada khususnya dan mempermudah pengguna mengakses langsung informasi yang terdapat pada bahan pustaka.
  2. Informasi langsung dapat dipecah-pecah menjadi kategori yang relatif tidak banyak.

Jenis Tajuk Subjek

  1. Tajuk Utama (Main Heading )
  2. Kata benda sebagai subjek

Jenis subjek yang paling sederhana adalah yang terdiri atas satu kata benda, ada kalanya dua kata benda dihubungkan dengan kata “dan” ditentukan sebagai subjek. Contoh : Pesawat, Buku, Polisi

  1. Tajuk Ajektif

Sering kali subjek-subjek ditanyakan dalam bentuk frase adjektif, yang terdiri atas kata benda dan diikuti kata sifat . Contoh : Lampu Mati, Awan Gelap, Mobil Berhenti

  1. Tajuk Frase

Tajuk frase adalah tajuk yang dibentuk oleh dua kata benda yang digabungkan atau tidak dihubungkan dengan kata depan. Contoh : Laki-laki sebagai Pengemudi, Pistol sebagai Senjata, Hak Untuk Pedagang

  1. Tajuk Gabungan

Suatu tajuk gabungan dibentuk oleh dua atau lebih unsur yang sederajat, dihubungkan dengan kata penghubung “dan”. Contoh : Kedamaian dan Keharmonisan, Mobil dan Motor, Tentara dan Polisi

  1. Tajuk bentuk kombinasi

Dalam bentuk tajuk frase dan tajuk gabungan kadang perlu mengadakan kombinasi-kombinasi tertentu. Contoh : Mesin, Praktek ; Tanah, Ilmu ; Kimia, Konsep

  1. Tajuk yang dibalik

Dalam satu dua hal tajuk yang terdiri atas dua atau lebih kata-kata atau istilah-istilah perlu diadakan perbalikan.

Alasan perbalikan:

  1. Anggapan bahwa para pembaca akan mencari melalui istilah dasar, biasanya kata benda atai inti dari subjek bersangkutan
  2. Menempatkan istilah atau kata yang mempunyai arti luas di depan untuk mengumpulkan bersama semua aspek dari subjek yang luas itu, bila hal itu dikehendaki.
  3. Tajuk tambahan ( Sub-headings )
  4. Subdivisi menurut bentuk.
  5. Subdivisi menurut tempat geografis.
  6. Subdivisi menurut waktu.
  7. Subdivisi menurut topik atau aspek khusus.

Prinsip Pembentuk Tajuk Subjek

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

  1. Tajuk Subjek Untuk Keperluan Pengguna

Perlu dipertimbangkan kepentingan pengguna, baik dalam memilih istilah, menentukan jumlah tahuk subjek dan ketentuan lainya.

 

 

  1. Satu Istilah Untuk Semua

Tajuk subjek merupakan istilah yang bersifat baku, yaitu satu kata atau istilah yang dipilih untuk suatu subjek berlaku untuk semua buku yang mempunyai subjek sama, sekalipun satu buku dengan lainnya berbeda dalam menggunakan istilah dalam subjek tersebut.

  1. Penggunaan Istilah Yang Biasa Digunakan

Dalam memilih istilah untu, tajuk subjek, harus mengutamakan penggunaan istilah yang biasa digunakan dalam masyarakat

  1. Penggunaan Istilah Yang Spesifik

Harus memilih istilah yang spesifik.

  1. Jumlah Tajuk Untuk Setiap Buku

Tidak ada ketentuan tentang jumlah tajuk subjek yang dibuat, dengan memperhatikan masyarakat pemakai dan faktor ekonomi (jika katalog masih manual)

  1. Penggunaan Penunjukan

Perlu dipertimbangkan penggunaan penunjukan silang dalam tajuk subjek.

Pengertian Tajuk Subjek

Defenisi tajuk subjek menurut Trimo adalah “suatu kata atau beberapa kata yang dipergunakan untuk melukiskan isi dari pada suatu buku ataupun topik”. Topik subjek dapat disebut dengan Subject Heading, merupakan deskriptor yang dibentuk dari kata tunggal maupun majemuk dipilih dari teks dokumen yang berguna untuk memberikan penjelasan tentang deskripsi isi dari dokumen sampai kepada unsur ketepatan yang paling dalam (Trimo, 1989: 2 ).

Subjek dapat didefinisikan sebagai topik yang dibicarakan dalam satu karya atau suatu disiplin ilmu yang terkandung dalam suatu karya. Sehingga tajuk subjek dapat diartikan kata, istilah atau frasa yang digunakan pada katalog atau daftar lain di dalam perpustakaan untuk menyatakan tema atau topik suatu bahan pustaka (Daftar Tajuk Subjek Untuk Perpustakaan, 1992: 25).

Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frase yang digunakan pada katalog atau daftar lain dalam perpustakaan untuk menyatakan tema atau topik suatu bahan pustaka. Sedangkan suatu entri subjek adalah katru katalog dengan tajuk subyek sebagai media penyusun (Daftar Tajuk Subjek Untuk Perpustakaan, 1996: ix).

Pengertian Literasi Informasi

Literasi informasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi.

Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif

Menurut CILIP, Literasi Informasi adalah kemampuan yang berkaitan dengan kapan dan mengapa kita membutuhkan informasi; di mana kita harus mencarinya; bagaimana cara mengevaluasinya, menggunakannya, serta mengomunikasikannya secara beretika.

Menurut ACRL Literasi informasi adalah seperangkat kemampuan yang terintegrasi meliputi penemuan reflektif informasi, pemahaman tentang bagaimana informasi yang dihasilkan dan dinilai, dan penggunaan informasi dalam menciptakan pengetahuan baru dan berpartisipasi secara etis dalam komunitas pembelajaran.

Arti dan Sejarah Demokrasi

Istilah “demokrasi” berasal dari yunani kuno yang diutarakan di Athena Kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak negara.

 

Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan. Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.

 

Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

 

Prinsip semacam ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.

 

Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa memperdulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat.

 

Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntibilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.

Pengertian Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan kata pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu ‘Paedos’ (anak) dan ‘Agoge’ yang berarti saya membimbing, memimpin anak. Sedangkan paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang (pemuda) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak (siswa) ke dan dari sekolah. Perkataan paedagogos yang semula berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini, kemudian sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni paedagoog (pendidik atau ahli didik atau guru). Dari sudut pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.

Kihajar dewantara (bapak pendidikan nasional indonesia 1889-1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin) pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dengan kata lain, Pendidikan dapat di artikan sebagai usaha orang dewasa dalam mendewasakan peserta didiknya agar menjadi dewasa dan menjadi manusia yang seutuhnya

Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris ‘communication’ bersal dari bahasa Latin ‘communicatio’, bersumber dari ‘communis’ yang berarti “sama”. Sama disini adalah dalam pengertian “sama makna”. Komunikasi minimal harus mengandung “kesamaan makna” antara kedua belah pihak yang terlibat. Dikatakan “minimal’’ karena kegiatan komunikasi itu tidak bersifat “informatif” saja, yakni agar orang mengerti dan tahu, tetapi juga “persuasif” yaitu agar orang bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu kegiatan dan lain-lain.

Komunikasi secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melelui/tanpa media yang menimbulkan akibat tertentu. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana, dengan demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari suatu pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan yang disampaikan tersebut.

Ada sejumlah komponen penting atau unsur yang merupakan prasyarat terjadinya sebuah komunikasi. Dalam “bahasa komunikasi’’ komponen-komponen tersebut meliputi:

  1. Komunikator, orang yang menyampaikan pesan
  2. Pesan, pernyataan yang di dukung oleh lambang
  3. Komunikan, orang yang menerima pesan
  4. Media, sarana atau saluran yang mendukung pesan
  5. Efek, dampak sebagai pengaruh pesan

Setiap perilaku manusia mempunyai potensi komunikasi. Ada istilah yang sangat familier

dalam dunia komunikasi yaitu “we cannot not communication”, “Kita tidak dapat tidak berkomunikasi”. Betapa tidak, komunikasi terjadi jika seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Jadi semua perilaku kita memiliki potensi komunikasi, baik dari segi ekspresi muka, bahasa tubuh, terlebih pengucapan baik secara verbal maupun nonverbal

Apa itu Hak kekayaan intelektual?

PENGERTIAN

Menurut Rohamadi Usman pengertian HAKI adalah hak atas kepemilikan atas karya karya yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan intelektualitas manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi Read the rest of this entry »

Apa itu Library 2.0 ?

 

  • Pengertian Library 2.0

Menurut Suwarto (2011) Pengertian Perpustakaan 2.0 adalah perpustakaan yang benar-benar beorientasi kepada pemakai, yang mendorong perubahan secara terus menerus, mengkreasikan layanan baik fisik maupun maya sesuai dengan keinginan pemakai, dan didukung dengan evaluasi layanan secara konsisten.

Sedangkan menurut Sudarsono (2008) mendevinisikan library 2.0 sebagai aplikasi teknologi berbasis web yang interaktif, kolaboratif, danmultimedia ke dalam layanan dan koleksi perpustakaan berbasis web, dan menyarakan agar definisi ini dapat diadopsi oleh komunitas ilmu perpustakaan. Dengan membatasi definisi tersebut pada layanan berbasis web, dan bukan layanan perpustakaan secara umum, dapat menghindarkan potensi kekeliruan dan dengan tepat dapat memberikan kesempata agar istilah itu dapat diteliti, diterorikan lebih lanjut, dan membuatnya menjadi lebih berguna dalam wacana profesional. Read the rest of this entry »